Aceh Utara - Enam bulan setelah banjir bandang melanda kawasan Kabupaten Aceh Utara, kondisi warga penyintas di Desa Gedumbak, Kecamatan Langkahan, masih sangat memprihatinkan. Selain kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, para pengungsi kini mulai digerogoti krisis gizi, terutama yang menimpa bayi dan anak-anak.
Salah satu potret pilu datang dari Nurul Akla (23), seorang ibu muda yang saat ini terpaksa tinggal di hunian sementara (huntara). Nurul tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kesulitannya memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya.
"ASI saya tidak keluar karena stres dan kurang gizi, sementara kami sama sekali tidak punya uang untuk membeli susu formula," ujar Nurul dengan mata berkaca-kaca, Kamis (28/5).
Lumpuhnya Perekonomian Warga
Bencana banjir besar disertai gelondongan kayu yang menerjang permukiman mereka pada November tahun lalu tidak hanya menghancurkan rumah, tetapi juga melumpuhkan total sumber pendapatan warga.
Sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi urat nadi ekonomi Desa Gedumbak rusak parah. Beberapa komoditas utama warga yang hancur total antara lain:
Perkebunan kelapa sawit
Tanaman cokelat (kakao)
Perkebunan pinang dan jeruk
Lahan pertanian padi
Akibat kerusakan lingkungan ini, suami Nurul kini kehilangan pekerjaan tetap dan hanya mengandalkan kerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Bertahan di Huntara dari Kayu Hanyut
Saat ini, Nurul bersama suami dan kedua anaknya harus bertahan hidup di dalam hunian sementara yang dibangun secara swadaya oleh para relawan. Ironisnya, huntara tersebut dibangun memanfaatkan sisa-sisa kayu hanyut yang dibawa oleh banjir bandang beberapa bulan lalu.
Meski bencana telah berlalu selama setengah tahun, penanganan pascabencana dinilai lambat. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai program pemulihan ekonomi maupun rekonstruksi rumah layak huni bagi para korban.
Warga Desa Gedumbak sangat berharap adanya perhatian segera dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara maupun pihak terkait, khususnya bantuan darurat berupa pemenuhan gizi bayi, susu formula, serta kepastian program pemulihan mata pencaharian.
Jurnalis zainuddin

0 Komentar