MITRA TNI-POLRI KOMANDO PATAS TV
Mojokerto, kamis 4 Juni 2026 - Perkembangan dunia kerja dan profesionalisme yang kian kompetitif kerap memicu dinamika sosial yang tidak sehat, salah satunya fenomena iri dengki terhadap pencapaian orang lain. Menanggapi realitas sosial tersebut, Pimpinan Media komandopatastv.co.id sekaligus Aktivis Muda Jawa Timur, Ali Nurhadi, C.PFW., C.MDF., C.JKJ., C.FTAx., memberikan pandangan kritisnya mengenai pentingnya menjaga fokus pada pengembangan diri dan kerja nyata.
Menurut Ali, adalah hal yang manusiawi jika seseorang merasa kagum atau terpesona melihat sosok yang mapan, pintar, jenius, berwibawa, tegas, serta memiliki pemahaman hukum dan keahlian yang mumpuni. Namun, ia menyayangkan jika kekaguman tersebut justru bergeser menjadi rasa iri dengki yang destruktif (merusak).
"Jika orang cerdas, iri itu boleh, tetapi harus menjadi 'iri yang sehat'. Artinya, perasaan itu diubah menjadi motivasi dan perjuangan hebat dengan akal sehat agar bisa menyamai atau melebihi pencapaian tersebut. Jangan bermodal iri dengki yang konyol," ujar Ali Nurhadi dalam keterangannya di Mojokerto.
Ali menambahkan, rasa iri yang tidak dikelola dengan sehat sering kali mengarah pada tindakan negatif seperti adu domba, propaganda, dan upaya menjatuhkan sosok yang dinilai berprestasi. Ia mengibaratkan, energi negatif tersebut seharusnya bisa didaur ulang layaknya sampah organik agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri.
Realitas Dunia Kerja: Senior Rasa Junior, Junior Rasa Senior
Dalam pandangannya mengenai realitas dunia profesional saat ini, Ali menyoroti adanya pergeseran batas akibat persaingan yang tidak sehat. Fenomena "senior rasa junior, dan junior rasa senior" kerap terjadi karena adanya pihak yang fokus menaruh keluh kesah dan kecemburuan sosial, ketimbang mengasah kemampuan.
"Jabatan boleh ditiru, usaha boleh ditiru, titel bisa dipelajari melalui pendidikan, dan keahlian (skill) bisa diuji serta diasah. Tetapi perlu diingat, masalah rezeki dan penghasilan setiap orang jelas berbeda," tegas pria yang memiliki deretan gelar sertifikasi profesi tersebut.
Di akhir keterangannya, aktivis muda Jawa Timur ini mengingatkan dampak buruk bagi individu yang memelihara sifat dengki dan malas bekerja. Menurutnya, kehancuran karir dan hilangnya orang-orang tersayang menjadi risiko nyata jika seseorang hanya sibuk menilai dan mengurusi kehidupan orang lain.
"Berpikir untuk maju tanpa menoleh ke belakang, kerja nyata untuk masa depan. Fokus pada kebutuhan sendiri dan jangan usil dengan kehidupan orang lain. Jika kita bersyukur, bekerja keras, dan bertanggung jawab, niscaya kesuksesan akan datang menghampiri," pungkas Ali.

0 Komentar