MITRA TNI-POLRI KOMANDO PATAS TV
Lamongan - 19 Februari 2026 – Memasuki bulan suci Ramadhan, masyarakat Lamongan harus kembali berhadapan dengan kenyataan pahit. Genangan banjir yang telah merendam pemukiman selama hampir tiga bulan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat warga untuk beribadah; sebaliknya, mereka bergotong-royong membangun jalan akses alternatif menggunakan bambu (sesek) demi menjangkau masjid dan pondok pesantren.
Inisiatif Swadaya di Tengah Kesulitan
Pembangunan jembatan dan jalan bambu ini murni bersumber dari anggaran swadaya masyarakat. Warga sadar bahwa menunggu air surut bukanlah solusi instan, sementara aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus tetap berjalan dengan khusyuk dan nyaman.
Darurat Kesehatan: Ancaman Kutu Air (Ngerang)
Selain masalah aksesibilitas, faktor kesehatan menjadi pendorong utama aksi ini. Terlalu lama beraktivitas di dalam air banjir memicu wabah penyakit kulit, terutama kutu air atau yang oleh masyarakat lokal disebut "ngerang".
"Kami merasa iba melihat kondisi masyarakat. Sudah tiga bulan banjir ini 'diam' tanpa ada tanda-tanda surut. Banyak warga yang mengeluh kakinya sakit dan gatal-gatal karena setiap hari harus menerjang air untuk ke masjid," ujar Lutfi, salah satu penggerak warga setempat.
Kekecewaan terhadap Penanganan Tahunan
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam karena banjir seolah menjadi agenda rutin tahunan yang belum menemukan solusi permanen dari pihak terkait. Lutfi mewakili keresahan warga menyatakan bahwa masyarakat tidak bisa terus-menerus mengandalkan solusi darurat yang mereka bangun sendiri.
Ketahanan Sosial: Gotong royong ini membuktikan bahwa modal sosial masyarakat Lamongan sangat kuat, namun hal ini seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa beban rakyat sudah terlalu berat.
Hak Beribadah: Infrastruktur yang memadai adalah pendukung utama dalam menjalankan ibadah secara layak. Banjir yang berkepanjangan ini dianggap telah merenggut kenyamanan warga dalam merayakan momentum suci Ramadhan.
Desakan Solusi Sistemik: Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera melakukan normalisasi sungai atau perbaikan sistem drainase agar siklus banjir tahunan ini tidak terus terulang dan mematikan produktivitas warga.
Jurnalis (Moch Abbas )

0 Komentar